Parkir masuk ambulance di Rumah Sakit Bayar?
Mengapa Ambulance Harus Bayar Parkir di Rumah Sakit?
Sebuah Paradoks Kemanusiaan
Bayangkan situasi ini: Sebuah ambulance melaju kencang membawa pasien gawat darurat ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit. Sopir dan relawan berjuang menyelamatkan nyawa, tapi saat tiba di gerbang, mereka dihadapkan pada sistem parkir berbayar. Kini, dengan model parkir modern seperti gate pass atau kartu tap, ambulance bahkan bisa tertahan di gerbang keluar jika tidak bisa membayar atau kartu hilang. Ironis, bukan? Ambulance bukanlah kendaraan biasa milik pasien, melainkan alat vital yang mengantar pasien sakit atau bahkan mengambil jenazah. Namun, di beberapa rumah sakit di Indonesia, praktik ini masih terjadi. Artikel ini akan membahas alasan di balik kebijakan ini, kritik terhadapnya, serta saran untuk solusi yang lebih manusiawi.
Alasan Rumah Sakit Memungut Biaya Parkir dari Ambulance
Banyak rumah sakit di Indonesia mengelola area parkir melalui vendor pihak ketiga untuk meningkatkan efisiensi dan pendapatan. Kebijakan ini sering kali bersifat umum: Semua kendaraan yang memasuki area parkir dikenakan biaya, tanpa pengecualian awal. Kini, dengan sistem modern seperti gate pass atau kartu tap (tap in saat masuk, tap out saat keluar), kendaraan tanpa kartu yang valid tidak bisa keluar gerbang secara otomatis.
Alasan utamanya adalah untuk menjaga ketertiban parkir dan menghindari penyalahgunaan lahan. Dari perspektif bisnis, parkir berbayar menjadi sumber pendapatan tambahan. Kebijakan ini sering kali tidak mempertimbangkan aspek kemanusiaan, karena fokus pada aturan umum untuk semua kendaraan.
Kritik: Ambulance Bukan Kendaraan Biasa, Ini Soal Nyawa Manusia
Praktik memungut biaya parkir dari ambulans, apalagi dengan risiko tertahan di gerbang karena kartu tap hilang atau tidak dibayar, menuai protes keras dari relawan dan masyarakat. Kasus nyata terjadi di beberapa RSUD, di mana ambulans relawan tertahan hanya karena tiket parkir hilang atau sistem gate tidak mengakomodasi kendaraan darurat.
Ambulance adalah simbol penyelamatan nyawa, bukan kendaraan komersial. Mereka sering kali dioperasikan oleh relawan sukarela yang tidak memungut biaya dari pasien. Penahanan ambulans di gerbang karena urusan administratif bisa berakibat fatal—menunda pengantaran pasien berikutnya atau pengambilan jenazah.
IGD dan ambulans saling bergantung: Tanpa ambulans, IGD kesulitan menerima pasien tepat waktu; sebaliknya, ambulans butuh akses cepat tanpa hambatan kartu tap atau pembayaran. Memungut biaya justru menambah beban dan waktu, yang bertentangan dengan prinsip darurat medis.
Saran: Buat Jalur Khusus untuk Ambulance
Solusi sederhana tapi efektif adalah menciptakan jalur khusus masuk-keluar untuk ambulans, sehingga mereka tidak perlu melewati sistem parkir umum berbasis kartu tap. Beberapa rumah sakit modern sudah menerapkan ini, dengan sensor otomatis atau kartu akses khusus gratis untuk ambulans resmi.
Pemerintah dan manajemen rumah sakit bisa:
- Menggratiskan sepenuhnya biaya parkir untuk ambulans: Termasuk pengecualian di sistem tap, dengan subsidi silang dari pendapatan lain.
- Membuat gerbang khusus darurat: Otomatis terbuka untuk ambulans tanpa perlu tap kartu, dilengkapi sensor sirene atau RFID khusus.
- Mengkaji ulang kontrak vendor: Pastikan kebijakan memprioritaskan kemanusiaan, bukan hanya profit.
- Libatkan regulasi nasional: Dorong Kementerian Kesehatan untuk atur standar parkir di rumah sakit, termasuk prioritas ambulans tanpa hambatan.
Kesimpulan: Waktu untuk Perubahan
Memungut biaya parkir dari ambulans, terutama dengan sistem kartu tap yang bisa menahan kendaraan di gerbang keluar, bukan hanya soal uang, tapi tentang nilai kemanusiaan yang tergadai. Rumah sakit sebagai institusi penyelamat nyawa seharusnya mendukung, bukan menghambat, peran ambulans. Dengan jalur khusus dan kebijakan gratis, kita bisa memastikan pelayanan medis darurat berjalan lancar tanpa tertunda oleh gerbang otomatis. Mari dorong perubahan ini—karena nyawa tidak bisa ditunda oleh karcis atau kartu parkir.
Apa pendapat Anda? Bagikan di kolom komentar blog ini!
Komentar
Posting Komentar